Kalau kamu melipir sedikit ke arah timur dari keriuhan Ubud, suasana perlahan berubah jadi hamparan pedesaan tenang yang menyimpan misteri masa lampau. Pejeng namanya. Kawasan ini bukan sekadar desa adat biasa karena tanahnya menyimpan lapisan sejarah dari berbagai zaman sekaligus. Di dalam salah satu tempat sucinya, ada sebuah peninggalan perunggu raksasa yang sudah ratusan tahun bikin penasaran warga lokal dan para peneliti dunia. Benda itu dijuluki Bulan Pejeng.
Dalam catatan arkeologi, benda ini masuk kategori nekara tipe Pejeng, semacam genderang perunggu luar biasa besar yang sekarang disakralkan di Pura Penataran Sasih. Bentuk fisiknya langsung menyita perhatian siapa saja yang melangkah masuk ke pelataran pura. Menariknya, nekara ini berasal dari era yang jauh lebih tua dibanding bangunan pura di sekelilingnya. Pura Penataran Sasih jadi bukti nyata bagaimana sebuah benda dari zaman prasejarah bisa terus bernapas dan membaur di tengah ritual keagamaan orang Bali sampai hari ini.
Di Mana Pura Penataran Sasih?
Pura Penataran Sasih terletak di Banjar Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Kawasan Pejeng dan Bedulu memang sudah lama dikenal sebagai pusatnya peninggalan purbakala di Bali. Dari pura ini, kamu cukup berkendara sebentar untuk sampai ke Pura Pusering Jagat, situs Kebo Edan, Museum Gedong Arca, atau Goa Gajah.
Akses jalan dari pusat Ubud pun tergolong gampang ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun mobil. Jaraknya dekat. Wisatawan yang ingin rehat sejenak dari keramaian kafe atau pasar seni Ubud bisa menyisihkan satu hari penuh untuk menelusuri jejak peradaban tua Gianyar di rute ini.
Apa Itu Bulan Pejeng?
Sebutan Bulan Pejeng berasal dari warga lokal untuk menggambarkan genderang perunggu berukuran raksasa yang tersimpan di dalam pura. Para ahli menyebut tambur logam seperti ini sebagai nekara. Bagian pinggangnya tampak ramping dengan bidang pukul yang sangat lebar di bagian atas, sementara bagian bawahnya dibiarkan terbuka membentuk rongga suara yang dalam.
Tingginya mencapai 1,86 meter dan garis tengah bidang pukulnya sekitar 1,60 meter. Ukuran yang masif. Skala raksasa ini menempatkannya sebagai salah satu peninggalan zaman logam prasejarah paling megah di seluruh Asia Tenggara. Orang awam yang berdiri di bawahnya pun pasti langsung paham bahwa pembuatan karya sebesar itu menuntut keahlian peleburan logam tingkat tinggi pada masanya.
Mengapa Disebut Bulan Pejeng?
Nama unik ini lahir dari cerita tutur yang mengalir turun-temurun di kalangan warga desa. Dulu masyarakat percaya benda besar yang tergantung tinggi itu adalah pecahan bulan yang jatuh langsung ke bumi. Konon sinarnya begitu menyilaukan sampai malam hari di Pejeng terasa terang benderang seperti siang.
Cahaya abadi itu ternyata mengusik seorang pencuri yang kesulitan beraksi di bawah terang benderang sang rembulan. Si pencuri yang kesal nekat memanjat lalu buang air kecil ke atas benda itu, hingga seketika sinarnya padam dan berubah menjadi logam gelap yang membisu. Dongeng lokal lain sempat menyebutnya sebagai subang atau giwang telinga milik tokoh sakti Kebo Iwa. Tentu kisah-kisah ini adalah mitos rakyat yang kaya imajinasi, bukan laporan ilmiah, meski ceritanya tetap seru untuk disimak sambil memandangi wujud fisiknya.
Sasih Berarti Bulan
Kaitan nama pura dengan peninggalan di dalamnya terbilang sangat lekat. Kata sasih dalam bahasa Bali merujuk pada bulan, baik sebagai benda langit maupun penanggalan tradisional. Wajar saja nama Pura Penataran Sasih langsung mengingatkan orang pada keberadaan nekara perunggu tersebut.
Hubungan keduanya melampaui sekadar urusan nama tempat. Masyarakat setempat telah merawat dan memasukkannya ke dalam tatanan spiritual desa sejak masa silam. Benda itu kini ditempatkan di bangunan suci megah bernama Pelinggih Ratu Bhatara Sasih. Jejak masa perundagian pun menyatu tanpa sekat dalam sembahyang harian warga modern.
Berapa Umur Nekara Bulan Pejeng?
Menetapkan tanggal pasti pembuatan artefak purba selalu jadi perdebatan rumit di kalangan peneliti. Kita sebaiknya tidak langsung percaya jika ada artikel yang berani menyebut tahun atau tanggal pembuatannya secara mutlak. Bulan Pejeng berasal dari periode perundagian prasejarah Bali, masa ketika nenek moyang mulai mahir mengolah aneka ragam logam.
Kajian arkeologi memperkirakan tradisi pembuatan nekara tipe ini berlangsung sekitar dua ribu tahun silam seiring meluasnya pengaruh teknologi perunggu di kawasan regional. Penemuan sisa cetakan batu di tanah Gianyar makin menguatkan dugaan bahwa nekara ini dibuat langsung oleh tangan perajin lokal Bali. Menyebutnya berumur sekitar dua milenium adalah kesimpulan paling masuk akal, tanpa perlu memaksakan angka tahun tertentu yang belum tentu disepakati semua ahli.
Apakah Bulan Pejeng Berasal dari Kebudayaan Dong Son?
Pertanyaan ini sering diajukan orang yang baru pertama kali membaca artikel tentang perunggu purba. Genderang perunggu di kawasan Asia Tenggara memang kerap dikaitkan dengan kebudayaan Dong Son asal Vietnam utara. Nekara Pejeng punya cerita yang sedikit berbeda.
Rancang bangun dan proporsi tubuhnya jauh lebih ramping dan panjang dibanding gaya nekara Dong Son klasik yang cenderung melebar pendek. Adanya pecahan cetakan batu purba di Pulau Dewata membuktikan masyarakat setempat punya dapur pengecoran mandiri. Bulan Pejeng bukan sekadar barang impor yang dibawa kapal dagang melintasi lautan, melainkan hasil karya para perajin lokal yang menyerap teknik logam dari jejaring budaya kepulauan Nusantara.
Baca juga Pura Samuan Tiga di Bedulu, Jejak Pertemuan Besar dalam Sejarah Bali
Bukti Kemajuan Teknologi Masyarakat Prasejarah Bali
Coba bayangkan proses mencairkan perunggu seberat itu dua ribu tahun yang lalu. Tidak ada listrik. Tidak ada mesin hidrolik atau sensor panas digital. Mereka hanya mengandalkan kayu bakar, tiupan ububan tradisional, serta insting tajam untuk membaca titik leleh tembaga dan timah.
Salah menakar komposisi logam sedikit saja, cetakan tanah liat dan batu bisa retak berantakan diterjang cairan panas membara. Pengecoran logam raksasa menuntut perhitungan matang soal ketebalan dinding, pola hiasan, dan kestabilan struktur saat mengering. Itulah kenapa Bulan Pejeng bukan hanya sarana ritual, melainkan bukti otentik kejeniusan sains dan teknik terapan masyarakat masa perundagian Bali.
Motif Hias pada Nekara Pejeng
Bulan Pejeng sama sekali tidak polos. Guratan seninya kaya. Di permukaan logamnya terukir motif bintang berlengan delapan pada bagian tengah bidang pukul, bersanding dengan pola geometris, hiasan tumpal, serta bentuk mirip huruf F yang khas.
Bagian tubuhnya menampilkan deretan motif topeng atau wajah manusia dengan mata bundar yang menatap tajam ke arah luar. Ragam hias semacam ini menjadi petunjuk penting bagi para arkeolog untuk memetakan jalur persebaran budaya perunggu di tanah air. Bagi warga desa, ornamen purba tersebut telah bertransformasi menjadi simbol sakral pelindung desa dari malapetaka, kendati makna aslinya dari ribuan tahun lalu mungkin sudah terkubur waktu.
Apakah Nekara Digunakan sebagai Alat Musik?
Dilihat sekilas, nekara memang mirip perkusi atau tambur perang berukuran jumbo. Fungsinya di masa purba jauh lebih rumit daripada alat hiburan pengiring pesta semata. Genderang perunggu di Asia Tenggara kuno umumnya difungsikan sebagai pusaka upacara penting, penanda wibawa kepala suku, atau sarana pemanggil roh leluhur.
Beberapa peneliti meyakini suaranya yang berat dan menggelegar dipakai untuk memanggil awan mendung agar menurunkan hujan di musim tanam. Kepercayaan ini sejalan dengan tradisi lokal di Pejeng yang kerap menghubungkan keberadaannya dengan ritual permohonan air dan kesuburan sawah. Fungsi benda purba bisa terus bertambah makna seiring bergantinya abad dan peradaban yang merawatnya.
Dari Benda Prasejarah Menjadi Benda Suci
Keistimewaan terbesar Pura Penataran Sasih terletak pada cara masyarakat memperlakukan peninggalan purba ini. Bulan Pejeng tidak dipajang di lemari kaca museum ber-AC yang sepi pengunjung. Benda ini tetap bertahta di halaman pura, diselimuti kain wastra, diberi sesaji, dan dihormati penuh takzim sebagai bagian dari denyut nadi persembahyangan warga.
Satu objek memegang dua peran penting secara harmonis. Para ilmuwan melihatnya sebagai bukti peradaban zaman logam yang tak ternilai, sementara umat Hindu melihatnya sebagai manifestasi kekuatan dewata yang melindungi tanah kelahirannya. Inilah yang kerap disebut sebagai warisan hidup, peninggalan prasejarah yang terus bernapas di tengah ritual masyarakat masa kini.
Pura Penataran Sasih Tidak Hanya Menyimpan Nekara
Banyak orang keliru mengira pura ini hanya menarik karena genderang perunggunya saja. Padahal kalau kamu berjalan menyusuri pelataran dalamnya dengan teliti, kompleks pura ini menyimpan deretan artefak batu yang luar biasa kaya. Kamu bisa menjumpai arca Ganesa berukuran besar, patung pendeta kuno, arca perwujudan raja, arca Dwarapala yang kokoh, hingga sepasang lingga dan yoni lambang kesuburan.
Kumpulan arca ini memperlihatkan bahwa tempat suci ini terus dipakai melintasi berbagai babak sejarah yang panjang. Nekara menandai masa prasejarah yang sangat tua, kemudian disusul kedatangan pengaruh Hindu dan Buddha dari abad-abad berikutnya yang meninggalkan seni pahat batu berkualitas tinggi. Pura Penataran Sasih bukan sekadar bangunan tunggal, melainkan perpustakaan terbuka dari perjalanan iman manusia Bali.
Prasejarah dan Bali Kuno Bukan Periode yang Sama
Istilah prasejarah dan masa Bali Kuno sering kali dicampuradukkan dalam obrolan santai, padahal keduanya merujuk pada rentang masa yang sangat berlainan. Prasejarah mencakup era ketika manusia belum mengenal tulisan, masa di mana Bulan Pejeng pertama kali ditempa. Istilah Bali Kuno baru dimulai saat prasasti-prasasti beraksara mulai ditulis oleh dinasti kerajaan kuno seperti Wangsa Warmadewa.
Bulan Pejeng sudah lama berdiri kokoh sebelum prasasti batu pertama dipahat di pulau ini. Ketika kerajaan-kerajaan kuno mulai menata pusat kekuasaannya di sekitar Pejeng dan Bedulu, nekara ini sudah menjadi peninggalan kuno yang dihormati di tanah tersebut. Fakta ini menegaskan bahwa Pejeng adalah simpul pertemuan penting antara zaman purba tanpa tulisan dengan peradaban literasi kerajaan masa silam.
Mengapa Pejeng Sangat Penting bagi Sejarah Bali?
Bagi pelancong yang cuma melihat brosur wisata kilat, Pejeng mungkin terkesan hanya desa tetangga di sisi timur Ubud. Sudut pandang ilmu arkeologi memandang kawasan ini sebagai jantung peradaban purba Bali. Tanah Pejeng dan Bedulu menyimpan kepadatan peninggalan sejarah yang sangat padat, mulai dari sarkofagus batu tempat penguburan purba, ceruk pertapaan di tebing cadas, candi padas, hingga relief kuno yang terpahat megah.
Para sejarawan menduga kuat bahwa lembah sungai di sekitar Pejeng pernah menjadi pusat pemerintahan beberapa raja besar Bali pada abad ke-8 sampai ke-14 Masehi. Wisatawan yang benar-benar haus wawasan sejarah tentu rugi besar jika hanya singgah sebentar di satu titik lalu bergegas pulang. Menelusuri Pejeng berarti membuka lembar demi lembar buku sejarah pulau ini secara utuh langsung di tempat asalnya.
Bulan Pejeng Masuk dalam Lambang Kabupaten Gianyar
Besarnya pengaruh peninggalan ini tercermin langsung pada lambang resmi pemerintah daerah Gianyar. Nekara Bulan Pejeng terpampang jelas di bagian tengah perisai lambang kabupaten. Benda purba ini diresmikan sebagai simbol keteguhan, nilai kepahlawanan, keagungan masa lalu, dan harapan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Gianyar.
Simbol ini menjadi pengingat bahwa Bulan Pejeng bukan hanya milik warga Desa Pejeng semata. Pengakuan resmi tersebut mengangkat derajatnya menjadi ikon kebanggaan daerah yang menyatukan memori kolektif seluruh warga. Sangat jarang ada artefak dari zaman prasejarah logam yang mendapat kehormatan sebesar ini dalam tata simbol pemerintahan modern.
Hubungan Pura dengan Upacara yang Masih Hidup
Pura Penataran Sasih adalah tempat suci yang aktif digunakan untuk sembahyang setiap hari. Rangkaian upacara piodalan dan perayaan keagamaan berskala besar digelar teratur mengikuti putaran kalender Bali. Atmosfer tempat ini bisa sangat berbeda tergantung pada hari kedatangan kamu ke pelataran pura.
Saat hari biasa tanpa upacara, angin sepoi-sepoi dan gemerisik daun kamboja menciptakan ketenangan yang menyejukkan hati. Suasana berubah meriah saat upacara besar tiba, di mana pelataran dipadati ribuan umat berbusana adat serba putih dan kuning, tabuhan gamelan yang dinamis, serta deretan banten persembahan yang menjulang tinggi. Jika kamu datang di tengah ritual suci, dahulukan selalu ruang bagi warga yang hendak bersembahyang dengan khusyuk.
Tradisi Siat Sampian
Desa Pejeng juga memiliki tradisi unik bernama Siat Sampian yang digelar pada rangkaian piodalan tertentu di Pura Penataran Sasih. Sampian merupakan rangkaian janur kelapa yang biasanya menjadi bagian pelengkap sarana upacara banten. Warga dan pemangku adat saling melemparkan dan mengibaskan rangkaian janur ini dalam sebuah gerakan perang ritual yang dipenuhi gelak tawa dan semangat persaudaraan.
Ritual ini bukanlah pertunjukan bela diri untuk tontonan turis atau adu kekerasan fisik. Gerakan ritual ini melambangkan pembersihan diri dari aura buruk serta wujud syukur mendalam atas limpahan berkah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadwal pelaksanaannya pun mengikuti kalender tradisional Bali, jadi pastikan mengecek waktu piodalan terbaru jika kamu berniat menyaksikan keunikan tradisi ini secara langsung.
Jangan Meminta Melihat Nekara dari Jarak yang Tidak Diperbolehkan
Karena Bulan Pejeng berstatus sebagai benda suci yang disakralkan, perlakuan terhadapnya tentu sangat berbeda dibanding melihat guci tua di etalase museum. Posisinya diletakkan cukup tinggi di atas bangunan pelinggih khusus yang berpagar. Wisatawan dilarang memanjat tiang bangunan, menyentuh permukaan perunggu, atau merayu petugas pura agar benda itu diturunkan ke tanah.
Jangan pula nekat menerobos batas suci hanya demi membidik foto detail dari jarak sangat dekat. Nilai spiritual nekara ini sangat sakral bagi warga desa yang merawatnya dari generasi ke generasi. Menghormati jarak aman adalah bentuk apresiasi paling tulus terhadap nilai sejarah dan kesucian tempat ibadah ini.
Etika Memasuki Pura Penataran Sasih
Masuk ke area suci menuntut kesopanan dalam berpakaian dan bertingkah laku. Pengunjung wajib mengenakan pakaian yang rapi serta melilitkan kain kamen bersama selendang di pinggang sebelum melangkah melewati gerbang candi bentar. Jaga langkah kaki agar tidak sembarangan melintasi area yang khusus diperuntukkan bagi pemangku atau umat yang sedang merapal doa.
Jangan berjalan tepat di depan orang yang sedang bersimpuh sembahyang hanya demi mencari sudut foto yang bagus. Matikan lampu kilat kamera saat mengabadikan momen persembahyangan agar tidak memecah keheningan doa. Selalu posisikan diri kamu sebagai tamu yang santun di rumah ibadah orang lain.
Kapan Waktu Terbaik Berkunjung?
Pagi hari sekitar pukul delapan sampai sepuluh adalah waktu paling nyaman untuk menjelajahi Pejeng. Udara pagi Tampaksiring masih terasa sejuk, cahaya matahari cukup lembut untuk mengambil foto, dan suasana pura belum ramai oleh pengunjung. Kamu pun punya sisa waktu yang longgar untuk melanjutkan penjelajahan ke situs purbakala terdekat lainnya.
Hindari membuat jadwal yang terburu-buru dengan memadatkan terlalu banyak lokasi dalam satu hari. Peninggalan purbakala butuh waktu untuk diamati secara perlahan agar pesan sejarah di balik batu dan perunggunya bisa dipahami utuh. Singgah sebentar cuma untuk berfoto selfie di depan gerbang lalu bergegas pergi hanya akan membuat kamu kehilangan inti cerita peradaban yang berharga di sini.
Kombinasikan dengan Museum Gedong Arca
Perjalanan ke Pejeng akan terasa jauh lebih lengkap jika kamu menyempatkan mampir ke Museum Gedong Arca yang lokasinya masih satu jalur. Museum terbuka yang asri ini menampung ratusan peti batu sarkofagus, arca purba, dan aneka bejana perunggu hasil penggalian arkeologi di tanah Bali. Penjelasan kurator di museum akan membantumu memahami pola hidup nenek moyang ribuan tahun silam secara ilmiah.
Penataran Sasih memperlihatkan bagaimana benda purba dirawat secara spiritual, sementara Museum Gedong Arca menyajikan sudut pandang pemeliharaan, pencatatan ilmiah, dan riset akademik. Dua tempat ini saling melengkapi dengan sangat padu. Dari sini kamu akan makin sadar bahwa tanah Pejeng menyimpan peninggalan prasejarah yang jauh lebih luas dari sekadar satu nekara besar.
Bisa Dilanjutkan ke Goa Gajah
Kawasan Bedulu berjarak hanya beberapa menit berkendara dari Pejeng. Di sana berdiri situs Goa Gajah yang sudah sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara. Menggabungkan kunjungan ke Penataran Sasih dan Goa Gajah dalam satu hari bakal memberikan gambaran evolusi budaya yang luar biasa kontras namun menyatu.
Bulan Pejeng membawa pikiran kita melayang ke zaman logam prasejarah ribuan tahun lalu. Goa Gajah di sisi lain menyuguhkan atmosfer pertapaan abad ke-11 dengan relief mulut raksasa bernuansa Hindu dan peninggalan kolam petirtaan bernuansa Buddha. Perjalanan singkat ini membuktikan bahwa sejarah Bali bukanlah garis tunggal yang kaku, melainkan rajutan peradaban yang sangat kaya warna.
Pura Pusering Jagat dan Situs Pejeng Lainnya
Tepat di sebelah barat Penataran Sasih, kamu bisa singgah ke Pura Pusering Jagat yang menyimpan bejana batu berukir serta arca-arca purba berwajah unik. Di sudut desa yang lain, situs Kebo Edan menyuguhkan arca raksasa penari dengan wujud ekspresif yang jarang ditemukan di tempat lain. Penggemar wisata sejarah bisa menghabiskan waktu setengah hari penuh menyusuri gang-gang desa Pejeng tanpa rasa bosan.
Pengalaman menjelajahi desa tua ini menyajikan nuansa yang bertolak belakang dari tren liburan Bali pada umumnya. Tidak ada dentuman musik kencang dari klub tepi pantai. Tak ada pula spot foto buatan berbahan plastik. Keindahan Pejeng murni terpancar dari kesunyian dinding batu tua dan jejak tangan peradaban kuno yang masih lestari hingga kini.
Pilihan Tour untuk Mengeksplorasi Kawasan Tampaksiring
Sejauh ini, rute reguler yang disediakan Bali Aga Tour belum mencantumkan kunjungan langsung ke Pura Penataran Sasih dalam jadwal bakunya. Informasi ini perlu disampaikan secara jujur agar kamu tidak keliru menduga bahwa pura ini otomatis masuk dalam paket perjalanan harian. Wisatawan yang ingin menikmati ketenangan desa adat dan jejak sejarah Gianyar biasanya diarahkan untuk melirik Paket Tour Desa Taro.
Paket Desa Taro mengajak kamu menyelami keseharian masyarakat tradisional, hutan bambu, dan budaya desa kuno di Gianyar utara. Walau rute standarnya tidak singgah ke Penataran Sasih, paket ini menjadi opsi menarik bagi pencinta wisata budaya yang ingin menjauh dari keramaian kota. Kamu selalu bisa berkonsultasi dengan pihak pemandu jika ingin mengatur rute khusus yang searah menuju situs bersejarah di Tampaksiring.
Alternatif dengan Tirta Empul dan Kintamani
Alternatif perjalanan lain yang cukup diminati adalah Paket Tour Bali Tiga Hari Dua Malam Iconic. Rute populer ini biasanya mengajak wisatawan menikmati pemandangan Danau Batur di Kintamani lalu turun menuju Pura Tirta Empul yang terkenal dengan mata air sucinya. Lokasi Tirta Empul berada di kecamatan yang sama dengan Pejeng, yaitu Tampaksiring.
Sama seperti rute sebelumnya, Penataran Sasih memang tidak tertulis di dalam jadwal standar paket wisata ini. Kamu bisa mendiskusikan penyesuaian waktu perjalanan bersama tim Bali Aga Tour sebelum hari keberangkatan tiba jika ingin mampir ke Pejeng. Komunikasi yang jelas di awal akan memudahkan penyesuaian rute tanpa mengganggu kenyamanan waktu liburanmu di Bali.
Jangan Mencari Bulan Jatuh Secara Harfiah
Cerita rakyat tentang serpihan rembulan yang jatuh dari langit adalah bagian penting dari daya tarik budaya lokal. Kisah fiksi itu membuat sosok Bulan Pejeng terasa mistis, puitis, dan mudah melekat di ingatan siapa saja yang mendengarnya. Memahami cerita legenda bukan berarti kita harus menutup mata dari temuan ilmu pengetahuan modern.
Bulan Pejeng tidak perlu benar-benar jatuh dari angkasa luar untuk diakui sebagai karya yang luar biasa. Fakta bahwa manusia purba dua ribu tahun lalu mampu merancang cetakan dan mengecor perunggu raksasa setinggi manusia dewasa sudah lebih dari cukup untuk membuat kita berdecak kagum. Mitos memperkaya imajinasi budaya, arkeologi membongkar rahasia teknologi purba, dan ritual keagamaan menjaga fisiknya tetap utuh terlindungi.
Mengapa Pura Penataran Sasih Layak Dikunjungi?
Pulau Bali memiliki ribuan pura dengan pemandangan tebing laut yang spektakuler atau gapura megah yang memanjakan mata kamera. Penataran Sasih menyuguhkan pesona yang berbeda lewat keheningan dan nilai arkeologinya yang tak tertandingi. Di tempat suci ini tersimpan mahakarya logam prasejarah paling monumental di Nusantara.
Di halaman yang sama, pahatan batu zaman kerajaan Hindu-Buddha berdiri berdampingan secara damai di bawah keteduhan pohon kamboja. Seluruh peninggalan tersebut tetap disucikan oleh warga desa melalui rangkaian upacara yang tak pernah terputus oleh deru zaman modern. Mengunjungi Pura Penataran Sasih bukan sekadar datang melihat sebongkah perunggu tua, melainkan menyaksikan bagaimana waktu, manusia, dan keyakinan saling merawat selama ribuan tahun.
Mungkin Anda tertarik membaca artikel berikut ini.
5 Spot Diving Terbaik di Bali yang Wajib Masuk Bucket List
Paket tour 2 hari 1 malam – Bali bukan cuma soal pantai berpasir putih dan sunset yang memukau. Buat kamu yang suka tantangan dan petualangan bawah laut, Bali adalah surganya diving! Pulau Dewata ini punya banyak spot diving kelas dunia yang bisa bikin kamu jatuh cinta sama dunia bawah laut. Dari terumbu karang warna-warni, bangkai... selengkapnya
Menjelajahi Pesona Pantai Pandawa, Apa Saja Keseruannya?
Paket Tour Banjarmasin ke Bali Plus Tiket Pesawat – Pantai Pandawa punya ciri khas yang bikin banyak orang penasaran. dua tebing tinggi besar yang megah. Di salah satu sisinya ada pahatan lima patung Pandawa dan Kunti. Deretan patung ini mulai dari Dewi Kunti lalu lima ksatria Pandawa seperti Dharmawangsa (Yudistira) Bima ... selengkapnya
Mengunjungi Gereja Tuka, Betlehemnya Bali yang Megah dan Bersejarah
Harga tiket masuk GWK – Bali memang sangat terkenal dengan sawah di Ubud atau pantai di Kuta. Tapi sebenarnya ada tempat lain yang punya sejarah unik di Kabupaten Badung. Tempat itu adalah Desa Tuka yang terletak di Kecamatan Kuta Utara. Di desa yang tenang ini, anda bisa melihat sejarah awal mulanya agama Katolik masuk ke... selengkapnya
Kontak Kami
Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.
-
Hotline
082144665050 -
Whatsapp
082144665050 -
Messenger
baliagatour -
Email
info@baliagatour.co.id


Belum ada komentar