Hotline 082144665050
Informasi lebih lanjut?
Home » Blog » Museum Puri Lukisan Ubud, Mengenal Perjalanan Seni Rupa Bali

Langkah kaki di atas jalan setapak Museum Puri Lukisan kerap membawa kejutan tersendiri bagi siapa saja yang baru pertama kali mampir ke jantung Ubud. Di tempat ini kita bisa melihat bagaimana seni rupa Bali perlahan bergerak meninggalkan ikatan tradisi istana serta pakem ritual kaku menuju bentuk baru pada abad ke 20 tanpa sedikit pun membuang jiwa aslinya. Suasananya tenang. Deretan lukisan di dinding bercerita lebih banyak dari sekadar teori di buku tebal.

Anda tidak perlu pusing menghafal nama perupa lawas atau membedah teknik sapuan kuas tingkat tinggi. Cukup melangkah perlahan dari satu ruang pamer ke ruang berikutnya. Perhatikan bagaimana lekuk tubuh manusia mulai digambar luwes, bentang alam perbukitan mendapat porsi lebih luas, cerita wayang ditafsir ulang, dan denyut nadi warga pedesaan masuk ke atas kanvas lewat bahasa visual yang sangat beragam.

Museum ini menjawab sebuah tanya penting yang kerap terlewat oleh pelancong biasa. Mengapa Ubud bisa menjelma menjadi episentrum seni yang begitu masyhur di Bali? Jawabannya tertata rapi di ruangan berlantai dingin ini.

Museum yang Lahir karena Karya Bali Mulai Pergi ke Luar Pulau

Ada masa ketika perahu dan kapal uap mulai ramai membawa pelancong asing menepi di pesisir pulau dewata sekitar awal abad ke 20. Mata orang luar langsung terpikat oleh keindahan karya buatan tangan perupa lokal. Mereka memborong lukisan dan patung kayu ukir untuk dibawa pulang melintasi benua. Seni Bali memang mendadak naik panggung dunia. Tapi ada harga mahal yang mengintai di balik sanjungan itu.

Kekhawatiran perlahan merayap di benak para tetua dan pemerhati budaya setempat. Bila karya terbaik terus berpindah tangan lalu lenyap ke negeri seberang, anak cucu di Bali kelak hanya bisa mendengar dongeng tentang kehebatan leluhur mereka tanpa pernah melihat wujud aslinya. Rasa cemas itulah yang menyalakan tekad untuk membangun Museum Puri Lukisan.

Gedung ini tidak pernah dirancang sekadar menjadi etalase barang indah pemikat turis. Gagasan utamanya adalah penyelamatan. Karya bernilai tinggi harus punya rumah aman di tanah kelahirannya sendiri agar para seniman muda punya ruang belajar dan jejak perubahan seni tidak menguap begitu saja ditelan zaman.

Untuk Memahami Puri Lukisan, Kenali Pita Maha Terlebih Dahulu

Membedah sejarah seni Ubud mustahil lepas dari perkumpulan bernama Pita Maha. Sekitar dekade 1930 an, suasana Ubud terasa sangat dinamis saat para perupa lokal, keluarga Puri Ubud, dan beberapa orang asing duduk bersama bertukar pikiran. Nama bangsawan Tjokorda Gde Agung Sukawati dan saudaranya Tjokorda Gde Raka Sukawati kerap disebut berdampingan dengan perupa Eropa seperti Rudolf Bonnet serta Walter Spies.

Kisah ini kerap disalahpahami orang luar. Jangan membayangkan orang Barat datang membawa cat lalu menggurui orang lokal tentang cara melukis. Seni Bali sudah hidup ratusan tahun sebelum orang luar menginjakkan kaki di sana. Pura penuh relief indah, pertunjukan desa berjalan saban malam, dan para perupa sudah lama berkarya melayani ritual adat.

Ruang interaksinya saja yang berganti rupa. Mereka saling mengamati teknik mencampur warna, menguji perspektif baru, dan membaca pasar seni yang mulai mekar. Kanvas dipamerkan ke kota besar. Para seniman lokal mendapat ruang lapang untuk mengeksplorasi gaya tanpa harus membuang akar budaya mereka.

Apa Sebenarnya Fungsi Pita Maha?

Banyak orang mengira Pita Maha adalah nama aliran lukisan tertentu, padahal kenyataannya organisasi ini bekerja mirip dewan kurasi mandiri. Para anggota rutin berkumpul membentangkan karya di atas lantai atau bale banjar, menilai mutu garapan, dan menentukan karya mana yang layak ikut pameran besar. Ruang diskusi ini menjadi benteng pertahanan yang sangat kokoh.

Pariwisata yang mulai berdenyut kencang kala itu membawa godaan besar berupa pesanan massal berharga murah. Perupa bisa saja tergoda melukis cepat asal laku dibeli wisatawan yang datang silih berganti. Pita Maha pasang badan agar komersialisasi tidak merusak martabat kesenian Bali.

Semangat menjaga mutu inilah yang diwariskan langsung ke Museum Puri Lukisan. Tempat ini menjadi ruang simpan bagi karya yang lolos seleksi ketat para maestro zaman dulu.

Apakah Seni Bali Berubah karena Pengaruh Barat?

Pengaruh itu nyata, tetapi kisahnya jauh dari kata sederhana. Pertemuan dengan seniman Eropa memang mengenalkan perspektif baru, anatomi tubuh yang lebih terukur, serta media lukis modern. Seniman Bali tidak lantas menjiplak mentah mentah apa yang mereka lihat dari kanvas luar negeri.

Mereka menyaringnya dengan sangat hati hati. Cerita kuno, upacara piodalan di pura, dan suasana pasar tetap menjadi nyawa utama dalam setiap goresan. Hubungan ini murni dialog dua arah yang saling memperkaya, bukan penjajahan visual yang menghapus kebiasaan lama. Perpaduan itu melahirkan identitas baru yang sangat memikat mata dunia.

Baca juga Pura Puncak Penulisan, Mengenal Situs Suci di Dataran Tinggi Kintamani

Dari Dunia Wayang menuju Kehidupan Sehari hari

Jauh sebelum era modern bergulir, kanvas perupa Bali hampir selalu dipenuhi figur pewayangan bergaris tegas mirip relief candi. Wiracarita Ramayana, perang tanding Bharatayuddha, serta mitos para dewa digambar mengikuti aturan pakem yang sangat ketat dan sakral. Ruang gerak tema terasa terbatas pada lingkaran ritual keagamaan.

Waktu berjalan dan batas itu perlahan melebar. Masuk abad ke 20, mata para pelukis mulai menangkap keindahan dari hal hal kecil di sekitar mereka. Petani mencangkul sawah basah, perempuan mengusung sesaji tinggi di atas kepala, rimbun pohon kelapa, dan tawa anak desa mendadak tumpah menjadi objek lukisan yang sangat hidup.

Tema lama tidak lantas dibuang ke keranjang sampah. Kisah wayang dan pemandangan pasar desa justru hidup berdampingan di atas dinding museum. Melihat transisi dua dunia ini secara berdampingan memberi keasyikan tersendiri bagi siapa saja yang gemar mengamati evolusi rasa.

Mengapa Ubud Menjadi Pusat Seni?

Pesona Ubud bukan semata bentang sawah berundak atau kabut tipis di pagi hari. Kawasan ini memiliki sistem sokongan budaya yang sangat kuat sejak ratusan tahun silam. Puri Ubud membuka pintu lebar lebar bagi para seniman, menyediakan tempat tinggal, serta menjamin kelangsungan hidup mereka agar bisa fokus berkarya mengasah rasa.

Desa desa di sekeliling istana hidup bagai denyut nadi kesenian. Ukiran kayu, musik gamelan, tarian sakral, dan seni lukis bertumbuh saling melengkapi dalam satu tarikan napas. Saat para pengelana seni dari berbagai penjuru bumi berdatangan, mereka langsung terhisap ke dalam pusaran kreativitas yang sudah mengakar kuat ini.

Ubud tidak lahir dari kebetulan semata. Ia menjelma menjadi kiblat seni berkat gotong royong antara bangsawan yang dermawan, desa adat yang guyub, serta keterbukaan warga menerima ide baru tanpa kehilangan jati diri.

Apa yang Bisa Dilihat di Museum Puri Lukisan?

Kekuatan utama Puri Lukisan berada pada kemampuannya merajut benang merah sejarah seni rupa pulau ini secara runtut dan gamblang. Koleksinya terbentang dari masa keemasan sebelum meletusnya Perang Dunia Kedua hingga ledakan gaya kontemporer setelah kemerdekaan. Setiap gedung membawa suasana zaman yang sangat berbeda.

Pengunjung bisa melihat keberagaman gaya dari berbagai kantong seni terkenal seperti gaya klasik Ubud, lukisan padat khas Batuan, sentuhan pesisir Sanur, warna menyala kelompok Young Artist, hingga miniatur detail dari Keliki. Semuanya punya ciri khas yang sangat kontras. Anda tidak perlu repot menghafal nama alirannya. Cukup berdiri diam dan biarkan mata Anda merasakan perbedaan ritme di setiap bingkai kayu.

Cara Menikmati Museum Tanpa Harus Mengerti Seni

Tinggalkan beban pikiran dan lupakan pertanyaan klise apakah lukisan di depan mata berharga mahal atau dibuat oleh tokoh terkenal. Mulailah dari hal yang paling sederhana dengan mengamati objek apa yang pertama kali memikat mata Anda saat berdiri di depan bingkai. Entah itu kerumunan monyet di dahan beringin, barisan penari legong, atau wajah pedagang pasar yang letih.

Setelah itu, arahkan pandangan pada bagaimana sang pelukis mengatur ruang di kanvasnya. Apakah gambarnya begitu sesak tanpa menyisakan ruang kosong sedikit pun, atau justru terasa lapang dengan sapuan warna tenang. Memperhatikan detail kecil seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada sibuk membaca lembar penjelasan di dinding galeri.

Gaya Ubud, Manusia dan Kehidupan Mendapat Ruang Baru

Pembaruan seni di Ubud pada abad ke 20 membawa perubahan drastis pada cara perupa menampilkan sosok manusia di atas kanvas. Lekuk badan tidak lagi kaku menyerupai wayang kulit melainkan tampak luwes dengan otot dan ekspresi wajah yang sangat hidup. Suasana desa masuk ke dalam ruang visual dengan kehangatan yang begitu nyata.

Gaya ini menjadi sangat istimewa karena nafas Bali tidak pernah luntur di dalamnya. Cerita rakyat tetap menjadi dasar cerita, begitu pula nuansa magis upacara adat yang khidmat. Kanvas gaya Ubud terlihat sangat modern bagi zamannya, tetapi tetap berpijak kokoh di atas tanah leluhur.

Mengapa Batuan Terlihat Begitu Padat?

Berdiri di hadapan lukisan gaya Batuan kerap membuat mata orang terperangah oleh kerapatannya yang luar biasa. Tidak ada ruang kosong yang disisakan oleh perupanya. Setiap jengkal kanvas dijejali pepohonan rindang, makhluk halus bertaring di sela batu, rumah bertembok bata, hingga warga yang sedang mandi di sungai dengan suasana gelap temaram yang misterius.

Karya Batuan menuntut kesabaran ekstra dari penikmatnya. Jangan melihatnya sambil lalu. Semakin lama kita menatap ke sudut lukisan, semakin banyak rahasia dan cerita kecil tersembunyi yang baru menampakkan diri di depan mata kita.

Sanur Membawa Nuansa yang Berbeda

Jauh dari suasana sawah pedalaman Ubud, para seniman pesisir Sanur melahirkan karya dengan nafas yang sangat berbeda. Angin laut, perahu jukung cadik yang bersandar di pantai pasir putih, dan kehidupan para nelayan mendominasi tema visual mereka. Hubungan erat dengan turis mancanegara yang gemar berjemur di tepi laut juga ikut menyuntikkan sudut pandang unik ke dalam lukisan.

Hal ini membuktikan bahwa seni rupa Bali bukanlah satu wujud yang seragam. Letak geografis, hawa pedesaan, pengaruh guru lukis, hingga selera para pelancong yang singgah terbukti sangat menentukan karakter visual dari tiap wilayah di pulau dewata.

Young Artist dan Ledakan Warna

Memasuki dekade 1960 an, sebuah terobosan visual yang riang meletup di kawasan Penestanan lewat kelompok yang dikenal sebagai Young Artist. Aliran ini meledak dengan warna warna primer yang sangat berani dan terang benderang di bawah bimbingan seniman Arie Smit. Sosok manusia digambar sangat sederhana tanpa beban detail yang rumit.

Peralihan dari ruang pamer bergaya Batuan yang gelap dan pekat menuju ruangan Young Artist menghadirkan kontras visual yang luar biasa segar. Pengunjung langsung merasakan bagaimana kebebasan berekspresi mekar di tangan para perupa muda Bali kala itu.

Keliki dan Dunia yang Sangat Kecil

Ruang pamer gaya Keliki selalu berhasil memaksa pengunjung untuk memajukan tubuh mereka sedekat mungkin ke kaca bingkai. Karya dari desa ini rata rata berukuran mungil, sering kali tidak lebih besar dari selembar kertas tulis biasa, namun menyimpan kerumitan yang luar biasa padat. Butuh ketelitian mata tingkat tinggi untuk mengurai lapis demi lapis gambar di dalamnya.

Di dalam bidang sekecil itu, sang pelukis sanggup menyematkan ratusan daun kelapa bergaris halus, kerumunan warga desa berbusana adat, dan makhluk mitos di balik semak belukar. Menatap lukisan Keliki dari kejauhan sama sekali tidak ada gunanya karena keajaiban sesungguhnya tersimpan pada goresan kuas super runcing yang dikerjakan selama berbulan bulan.

I Gusti Nyoman Lempad dan Garis yang Sulit Dilupakan

Nama I Gusti Nyoman Lempad adalah legenda hidup yang memahat wajah seni Ubud dalam banyak rupa. Tokoh serba bisa ini tidak hanya mahir menggambar di atas kertas, tetapi juga dikenal luas sebagai arsitek ulung yang merancang gapura dan wadah pelebon megah untuk upacara ngaben bangsawan puri. Garis tangannya memiliki kekuatan magis yang sangat sulit ditandingi oleh perupa lain.

Lukisan Lempad sangat mudah dikenali lewat tarikan garis tinta hitam di atas bidang putih yang nyaris tanpa warna tambahan. Tubuh manusia digambar memanjang dengan gerak yang sangat lentur, lincah, dan penuh ekspresi batin. Karyanya membuktikan bahwa modernitas seni rupa Bali bisa lahir dalam wujud minimalis yang sangat anggun.

Rudolf Bonnet, Pengaruh Besar tetapi Bukan Satu satunya Cerita

Sosok Rudolf Bonnet memegang peran sentral dalam peletakan batu pertama Museum Puri Lukisan. Pelukis berdarah Belanda ini mengabdikan separuh hidupnya untuk mengorganisir Pita Maha, mendirikan Yayasan Ratna Wartha, merancang arsitektur museum, hingga menyusun koleksi awal yang tersimpan rapi sampai sekarang. Kecintaannya pada perupa lokal menjadikannya figur yang sangat dihormati di Ubud.

Kisah museum ini tentu tidak boleh disempitkan menjadi panggung pahlawan tunggal seorang pelukis Eropa. Nyawa tempat ini terbangun berkat persahabatan tulus dan rasa saling menghargai antara Bonnet, keluarga Puri Ubud, dan paguyuban perupa desa. Tanpa adanya jalinan batin antarmanusia ini, Puri Lukisan mungkin tidak akan pernah berdiri tegak seperti sekarang.

Mengapa Nama Puri Ada dalam Museum Puri Lukisan?

Penyematan kata puri di awal nama museum ini menjadi bukti nyata hubungan erat antara dunia seni dan lingkungan bangsawan istana. Puri Ubud sejak awal berperan sebagai pelindung yang menyediakan tanah serta sokongan moral dan material bagi perkembangan kebudayaan. Sejarah panjang inilah yang membuat museum ini menyandang nama terhormat tersebut.

Lokasinya pun berada persis di denyut nadi keramaian Jalan Raya Ubud. Dari gerbang istana Puri Saren Agung atau Pasar Seni Ubud, Anda hanya butuh berjalan santai beberapa menit saja untuk tiba di pintu masuk museum. Warisan visual berharga ini tersimpan sangat dekat dengan tanah tempat ide idenya pertama kali dirajut.

Museum Ini Membantu Memahami Ubud dengan Cara Berbeda

Bagi banyak turis, Ubud sering kali hanya sebatas jalanan macet penuh kafe cantik, hutan monyet Padangtegal, terasering sawah, atau studio yoga yang tenang. Tempat tempat itu memang menyenangkan untuk disinggahi. Namun melangkah masuk ke Museum Puri Lukisan membuka tabir cerita yang jauh lebih dalam tentang jati diri kawasan ini.

Begitu Anda keluar dari kompleks museum, pandangan Anda terhadap Ubud dijamin akan berubah total. Ukiran kayu di pintu masuk kedai kopi kecil tidak lagi terlihat sekadar hiasan biasa. Pementasan tari di pelataran pura malam nanti pun akan terasa lebih bermakna karena Anda tahu dari mana semua estetika itu bermula.

Jika Hanya Punya Satu Jam, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Bila jadwal liburan Anda sangat sempit, jangan menyiksa diri dengan mencoba membaca setiap lembar keterangan di dinding galeri. Trik terbaiknya adalah memilih tiga titik penting saja. Tengok karya klasik pewayangan masa awal, lalu cari lukisan Batuan yang penuh sesak, dan tutup dengan menikmati warna cerah di ruang pamer modern.

Sisihkan waktu sepuluh menit terakhir untuk duduk santai di bangku taman dekat kolam teratai. Menghirup udara sejuk sambil membiarkan visual lukisan mengendap di kepala akan memberikan pengalaman yang sangat berkesan meski waktu singgah Anda sangat terbatas.

Apakah Museum Puri Lukisan Cocok untuk Orang yang Tidak Suka Museum?

Tempat ini sangat ramah bagi orang yang biasanya cepat merasa bosan atau sesak di dalam ruangan pamer biasa. Puri Lukisan tidak dibangun menyerupai gedung bertingkat dingin yang kaku dan tertutup rapat. Paviliun pamerannya terbagi menjadi beberapa bangunan terbuka bergaya tradisional yang tersebar rapi di tengah kebun tropis yang sangat asri.

Pengunjung bisa berganti suasana dengan sangat leluasa. Setelah menatap lukisan di dalam ruangan yang sejuk, Anda bisa melangkah keluar menikmati gemericik air kolam teratai dan rindangnya pohon kamboja sebelum lanjut ke gedung berikutnya. Ritme santai inilah yang membuat kunjungan terasa sangat menyegarkan pikiran.

Museum Puri Lukisan dan Ubud Palace Bisa Dilihat sebagai Satu Cerita

Mengingat jaraknya yang bertetangga dekat, menyambangi Museum Puri Lukisan bersamaan dengan Puri Ubud adalah kombinasi yang sangat pas. Puri memperlihatkan bagaimana lingkungan istana menjadi rumah bagi perkembangan budaya ratusan tahun silam. Museum melengkapi cerita itu dengan menunjukkan bagaimana karya karya terbaiknya berhasil diselamatkan dan dirawat sampai hari ini.

Pasar Seni Ubud di seberang jalan memperlihatkan denyut ekonomi rakyat, sementara pementasan malam menyuguhkan gerak tari yang memukau. Keduanya saling melengkapi. Bila Anda memesan paket perjalanan keliling Ubud yang memuat agenda ke Puri Ubud dan Pasar Seni, luangkan sedikit waktu khusus agar museum tertua di Ubud ini tidak sekadar terlewati begitu saja di pinggir jalan raya.

Dari Lukisan menuju Seni Pertunjukan Peliatan

Rangkaian kisah seni Ubud belum benar benar lengkap jika Anda belum melongok ke desa tetangganya, Peliatan. Sejak zaman kolonial, Peliatan dikenal sebagai sarang para penari legong dan penabuh gamelan bertangan dingin yang pernah mengguncang panggung dunia di Paris pada era 1930 an. Hubungan darah seni antara Ubud dan Peliatan bagai dua keping mata uang yang tidak terpisahkan.

Bila Museum Puri Lukisan memuaskan dahaga visual Anda lewat goresan kuas di atas kanvas, meluncur ke Puri Agung Peliatan akan menghidupkan kembali suara tabuhan gong dan liukan mata para penari tradisi. Membagi perjalanan seni ini ke dalam dua ritme berbeda akan membuat liburan budaya Anda di Bali terasa jauh lebih utuh dan membekas di ingatan.

Apa Bedanya Museum Puri Lukisan dengan Sekadar Galeri Seni?

Banyak pelancong kerap menyamakan museum dengan galeri seni komersial yang bertebaran di sepanjang trotoar Ubud. Galeri biasanya memajang lukisan untuk dijual langsung kepada kolektor dengan rotasi karya yang berganti sangat cepat mengikuti tren pasar. Tujuannya sangat jelas yaitu transaksi perdagangan seni.

Museum memikul tanggung jawab peradaban yang jauh lebih berat dari sekadar urusan jual beli. Di Puri Lukisan, setiap benda yang terpajang mengemban fungsi edukasi, pencatatan sejarah, dan penyelamatan warisan masa lalu. Kita diajak memahami konteks sosial zaman saat kanvas itu dilukis, bukan sekadar melihat banderol harganya.

Mengapa Museum Puri Lukisan Penting untuk Arah Seni Bali Hari Ini?

Perkembangan kebudayaan selalu membutuhkan ingatan masa lalu agar tidak mudah goyah dihempas arus zaman modern. Generasi muda perupa Bali tentu bebas bereksperimen dengan teknologi dan gaya apa pun hari ini, tetapi mereka tetap membutuhkan pijakan kokoh untuk melihat dari mana identitas visual mereka bermula. Puri Lukisan adalah cermin besar bagi ingatan kolektif tersebut.

Tanpa adanya museum yang merawat karya fisik aslinya, jejak perjalanan seni rupa Bali akan tercerai berai ke tangan kolektor pribadi di mancanegara dan hilang dari pandangan publik. Bagi masyarakat lokal sendiri, keberadaan gedung ini adalah penegasan martabat. Mereka tidak perlu terbang ke benua lain hanya untuk menyaksikan karya adiluhung yang diciptakan oleh kakek moyang mereka di tanah kelahiran sendiri.

Jadi, Apakah Museum Puri Lukisan Layak Dikunjungi?

Museum ini mutlak harus masuk ke dalam daftar singgah bila Anda ingin memahami Ubud secara utuh melampaui riuhnya foto di media sosial. Tempat ini memberi jiwa pada perjalanan Anda. Anda akan menyadari bahwa kebudayaan Bali tidak pernah kaku membeku di masa lalu, melainkan terus bernapas dan beradaptasi menghadapi gelombang modernisasi yang datang silih berganti.

Kekuatan terbesarnya bukan terletak pada berapa tua umur sebuah lukisan atau seberapa megah bingkai emas yang membungkusnya. Keajaiban sesungguhnya ada pada keuletan para seniman Bali yang berhasil merangkul dunia luar tanpa pernah melepaskan akar tradisi yang menghidupi jiwa mereka. Puri Lukisan adalah saksi bisu kemenangan budaya tersebut.

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Komentar Anda*Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Mungkin Anda tertarik membaca artikel berikut ini.

rental hiace ke pura besakih

Harga Rental Hiace ke Pura Besakih Bali (All-In Driver + BBM)

31 March 2026 158x Rental Mobil di Bali

Harga Hiace Commuter ke Pura Besakih : 1.200.000 Harga Hiace Premio ke Pura Besakih : 1.500.000 Keterangan : ✔ Harga Termasuk : Mobil, Driver, BBM✔ Harga Tidak Termasuk : Tol, Parkir, Tips Driver✔ Durasi Fullday : 12 Jam✔ Overtime Time : 10%/jam✔ Harga diatas berlaku untuk penjemputan area Denpasar, Nusa Dua, Jimbaran, Kuta, Seminyak, Legian, ... selengkapnya

Paluang Cliff Si Cantik Tersembunyi di Nusa Penida yang Bikin Melongo!

7 July 2025 277x Blog

Paket tour keluarga 4 Hari 3 Malam di Bali – Percaya deh, kalau kamu lagi cari tempat yang pemandangannya bisa bikin mata melotot saking indahnya, Nusa Penida punya jagoan baru namanya Paluang Cliff. Ini bukan sembarang tebing ya, ini tebing yang punya cerita dan pemandangan laut yang bikin kamu lupa sama semua masalah. Nusa Penida... selengkapnya

Bapak Asnul Mukmin – Ibu Supriyantini

Bapak Asnul Mukmin – Ibu Supriyantini

24 October 2018 474x Uncategorized

Terima kasih banyak telah bisa menikmati keindahan Bali, dan saya terkesan sekali sama Pak Komang yang mengantar kami dengan baik dan kami puas. Semoga kami bisa kembali berlibur bersama Baliagatour. selengkapnya

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.